Sunday, September 29, 2019

Membentuk Persepsi Positif Masyarakat Muslim Terhadap Politik Melalui Tarbiyah Siyasah Islamiyah


Membentuk Persepsi Positif Masyarakat Muslim Terhadap Politik Melalui Tarbiyah Siyasah Islamiyah (Pendidikan Politik Islam)
(Mohammad Heru Susanto – Universitas Pattimura Ambon)

Di tahun 2019, isu tentang politik menjadi trending topic di kalangan masyarakat. Isu politik sering kali ditandai dengan munculnya partai-partai politik yang masing-masing datang dengan sejuta iming-iming visi, misi serta janji untuk menjadi partai pilihan rakyat. Jadi sebenarnya apa yang dimaksud dengan politik? Secara garis besar politik bisa di artikan sebagai bidang ilmu pengetahuan yang membahas tentang ketatanegaraan, pemerintahan serta perundang-undangan. Sedangkan dalam Islam, politik dikenal dengan nama siyasah yang berarti mengurusi atau mengatur perkara. Oleh karena itu yang berhubungan dengan urusan perkara disitulah politik berperan. Namun, ada banyak persepsi masyarakat yang negatif tentang politik. Persepsi itu datang dari kebanyakan umat Islam itu sendiri. Mereka mengatakan bahwa sejatinya politik itu kotor, banyak permainan yang melanggar norma-norma didalamnya. Tidak ada dalil yang mengatakan bahwa orang muslim harus berpolitik. Ada juga pendapat bahwa Islam itu agama yang hanya fokus pada Ibadah, jadi jangan campur adukan Ibadah dengan Politik. Berdasarkan peryataan tersebut, apakah benar Islam memang tak mengajarkan tentang politik?
Islam merupakan agama yang syamil wa mutakamil yakni sempurna dan menyempurnakan. Artinya Islam adalah agama yang menyeluruh yang mencakup segala bidang dan aspek kehidupan. Dari mulai manusia terbangun dari tidur hingga tertidur lagi di waktu malam, Islam pun mengaturnya. Maka di setiap aktivitas keseharian manusia, mereka ada yang berjualan, ada yang sekolah, kuliah atau mengajar dan ada pula yang bekerja sebagai kepala-kepala bidang dipemerintahan serta masih banyak lagi dan Islam mengatur semua urusan bidang-bidang tersebut. Jika Islam diibaratkan seperti bangunan, maka syahadatain merupakan pondasinya, tiangnya adalah 5 rukun Islam dan dindingnya adalah bidang ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya dan lain-lain serta atapnya adalah jihad fii sabilillah. Maka lengkaplah sudah bagian-bagian bangunan itu. Begitulah Islam yang sempurna. Namun kebanyakan masyarakat saat ini telah terpengaruh dengan paham barat yaitu paham sekulerisme. Paham ini mengklaim bahwa agama terpisah dengan urusan dunia apalagi urusan politik. Urusan agama/ibadah itu di masjid atau tempat ibadah saja, jangan membawa agama pada urusan dunia. Begitulah pemahaman yang berkembang di masyarakat. Kita patut banyak belajar lagi tentang agama Islam yang syamil ini. Dan jika memang Islam mengatur politik, dari siapakah dan dari manakah umat Islam mengambil contoh tentang cara-cara berpolitik?
Rasululllah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah orang yang akan memberi contohnya. Beliau merupakan teladan umat manusia, yang mengajarkan bagaimana cara memanusiakan manusia. Beliaulah the best role model dalam segala aspek kehidupan. Tak satupun bidang yang tertinggal dalam ajaran Islam yang tidak dijelaskannya, baik melalui sabdanya (hadits) maupun langsung dari Al-Qur’an. Lalu bagaimanakah Rasulullah SAW dahulu berpolitik? Dalam menjalankan kehidupannya, Muhammad SAW sebagai seorang Nabi dan Rasul, kepala keluarga dan kepala pemerintahan/negara yaitu memimpin seluruh umat Islam. Dengan sistem khalifah, yaitu seluruh umat Islam di dunia taat kepada satu pemimin yaitu Rasulullah SAW. Dari sirah nabawiyah kita dapat jumpai banyak peryataan yang menggambarkan sikap beliau SAW berpolitik dan menjalankan pemerintahan. Dari sifaf beliau yang pandai dalam beretorika (tabligh) mampu menjalin hubungan baik dengan kepala-kepala negara saat itu. Tergambar saat beliau mengadakan negosiasi dengan petinggi kaum Quraisy saat itu. Beliau juga menerapkan risalah politik yang berisi hukum-hukum Allah yang berlaku mulai periode Madinah. Terlebih lagi saat era baru yaitu beliau mengirimkan surat kepada raja dan penguasa saat itu, yaitu raja Habasyah, Romawi, Raja Oman dan banyak  masih lagi guna menyerukan dakwah dan mengajak mereka beriman kepada Allah dan bersaksi atas kenabian beliau. Dengan mengambil jalan yang baik serta penyampaian yang baik, maka para raja-raja pun menerima dakwah beliau meskipun ada pula yang menolaknya. Dari sinilah bermula hubungan diplomatik yang baik antara Rasulullah SAW dengan para raja-raja tersebut.
Begitupun sistem politik yang dijalankan setelah wafatnya Rasulullah SAW, yakni diterukan oleh para sahabat dengan jalan yang sama dan dengan sistem khalifah. Namun bagaimana dengan negara Indonesia yang menganut sistem demokrasi? Banyak kalangan umat Islam yang akhirnya menolak berpolitik dan anti pati terhadapnya. Politik itu tidak jelas dan banyak mudaratnya. Jika seperti ini persepsi masyarakat, lantas bagaimana cara memberikan pemahaman yang baik tentang politik meskipun berbeda sistem yang dianut? Maka dengan jalan tarbiyah siyasah islamiyah (pendidikan politik Islam) lah akan terbentuk pemaham akan politik dan memahami ruang lingkup politik itu dengan baik.
Tarbiyah siyasah Islamiyah (pendidikan politik Islam) bisa dilakukan melalui berbagai cara. Kita bisa memberikan tarbiyah melalui tulisan dalam bentuk artikel, jurnal, buku dan terlebih lagi di zaman teknologi saat ini, tulisan-tulisan kita dapat kita bagikan melaui status di akun-akun sosial media kita. Kemudahan teknologi saat ini pun memudahkan kita dalam berdakwah atau memberikan pemahaman Islam yang universal ini kepada masyarakat luas. Jika di ruang lingkup pendidikan seperti universitas, mahasiswa bisa membuat kelompok-kelompok kajian ilmu Islam, kelompok mentoring agama Islam, majelis ta’lim, dan sebagainya yang tujuannya sama yakni pemahaman Islam yang menyeluruh. Dan kita yang mahasiswa juga bisa bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk memberikan mentoring agama Islam kepada adik-adik siswa. Begitupun saat kita berada di lingkungan masyarakat, kita bisa bergabung dalam remaja masjid, dan organisasi masyarakat lain yang tujuannya kita bisa memberikan pemahaman Islam kepada masyarakat khususnya pemahaman tentang politik dalam Islam. Maka dari itu, hal-hal apa saja yang bisa kita bagikan kepada masyarakat terkait politik dan seperti apa Islam mengaturnya?
Yang pertama ialah asas-asas politik dalam Islam. Terdapat tiga asas politik Islam yaitu hakimiyaah islamiyyah, risalah dan khalifah. Kita tahu bahwa Islam adalah agama yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Maka yang berkuasa dan memiliki wewenang tertinggi ialah hak mutlak Allah. Allah lah sebaik-baik pembuat penghakiman. Maka untuk menjalankan hukum-hukum Allah, perlu adalanya perwakilan (khalifah) di bumi ini. Khalifah yang telah di tunjuk oleh Allah ialah para nabi dan rasul. Mereka di utus dengan membawa risalah Allah SWT. Risalah adalah asas yang penting karena melalaui perwakilan (khalifah) nabi dan rasul, Allah mengutus mereka untuk menyampaikan risalah politik yang berisi kekuasaan Allah, hukum-hukum atau perundang-undangan yang mengatur kehidupan manusia yang termuat dalam kitab-kitab-Nya. Seperti halnya rasul Muhammad SAW, beliau membawa risalah Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an serta beliau juga menyampaikan melalui sabdanya (hadits). Perundang-undangan yang bersumber dari kedua sumber itu disampaikan dan diterjemahkan kepada rakyat.  Semua itu murni wahyu Allah, datangnya dari Allah yang disampaikan kepada manusia melalui perantara khalifah. Kemudian kekhalifanan dilanjutkan oleh para ulama dan ulil amri setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Yang kedua ialah prinsip utama politik Islam. Ada beberapa prinsip politik yang di jelaskan dalam Islam yaitu prinsip musyawarah, keadilan, kebebasan serta hak rakyat untuk menghisab pemerintah. Musyawarah merupakan prinsip politik yang sangat penting. Karena prinsip ini berkenaan dengan pemilihan pemimpin negara dan menjadi orang-orang yang bertugas dalam melaksanakan perundang-undangan yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As Sunnah. Apabila ada perkara baru maka akan diambil jalan ijtihad atau ijma (kesepakatan ulama). Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi keadilan. Sejak Rasulullah SAW datang, maka kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih baik. Manusia mendapatkan hak-haknya sebagaimana mestinya. Islam juga memberikan kebebasan dalam berpolitik. Bebas dalam melaksanakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Selain itu Islam memberikan hak kepada rakyat untuk menghisab pemerintah. Rakyat berhak mendapat penjelasan atas kinerja-kinerja pemerintah. Apabila ada hal yang berkaitan dengan masalah rakyat, maka perlu dimusyawarahkan dan di umumkan kepada rakyat. Ini juga menjadi kewajiban pemerintah untuk melakukan musyawarah atas suara rakyat terkait masalah ketatanegaraan dan masalah umat.
Lantas, apakah kita umat Islam masih antipati dengan politik? Jawabanya tentu saja jangan. Umat Islam harus peduli dengan politik. Ini akan berdampak pula bagi kebaikan kehidupan masyarakat itu sendiri. Meskipun nantinya kita tidak berada diranah politik, setidaknya kepedulian kita ada akan politik. Jika orang paham tentang politik dalam pandangan Islam, maka kemungkaran pun bisa dihindari. Umat muslim akan takut jika berbuat curang dalam berpolitik. Karena sejatinya Islam telah mengajarkan untuk berbuat baik dan mencegah keburukan. Seperti firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 110: “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. Politik dalam Islam sudah jelas apabila diterapkan dengan baik. Melalui asas musyawarah dan mufakat dan dengan memberikan rakyat hak untuk menghisab pemimpin yang bekerja tidak sesuai amanahnya. Melalui politik Islam, akan juga mencegah lahirnya pemimpin yang dzalim. Memang benar Islam mengajarkan untuk taat pada pemimpin (ulil amri), namun bagaimana jika pemimpinnya berbuat dzalim? Itulah dampak yang akan terjadi jika umat muslim buta politik dari sudut pandang Islam. Dan yang lebih parah lagi rakyat lah yang mendapatkan dampak dari pemimpin dzalim itu. Misalnya rakyat kecil akan mendapatkan perlakuan yang tidak setara dihadapan hukum dengan para pejabat dan yang lainnya. Yang memiliki uang banyak lah yang akan menang. Begitulah permainan politik jika tidak berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-sunnah. Begitulah yang akan terjadi apabila hukum-hukum Allah tidak diterapkan. Maka jangan salahkan siapa-siapa, tapi seharusnya kita belajar lagi tentang segala aspek kehidupan ini. Karena Islam memang agama yang sempurna dengan Al-Qur’an sebagai pedomannya yang tidak bisa diragukan lagi kesempurnaannya. Seperti firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 2: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.
Setiap aspek kehidupan memang telah jelas di atur oleh agama Islam. Tidak satupun yang tertinggal apalagi bidang ilmu politik. Politik bukan lagi menjadi persepsi negatif dikalangan masyarakat yang sering kali dikatakan sebagai politik kotor apabila diterapkannya politik yang Islami. Dan semua bidang ilmu tersebut akan bernilai ibadah jika dilakukan semata-mata untuk meraih ridha Allah SWT. Kemudian tidak akan ada lagi ketidakadilan dalam politik jika masyarakat paham tentang politik dalam Islam melalui tarbiyah siyasah islamiyah. Karena hanya jika umat Islam kembali pada Al-Qur’an dan As-sunnah, maka kehidupan yang adil, makmur dan harmonis akan tercapai.